ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Anis Matta

Badai "SAPI" Bukan Kiamat Bagi PKS


Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera bidang Kebijakan Publik Hidayat Nur Wahid, menegaskan musibah yang terjadi pada partainya merupakan cobaan yang membuat semakin kokoh dan bersih sebagai partai Islam ke depannya.

"Saat ada musibah seperti ini, kami justru dapat dukungan dari berbagai pihak. Ini belum kiamat bagi PKS, justru kader kami akan kembali pada fitrah dan kebenaran yang sesungguhnya," kata Hidayat di Jakarta, Sabtu 2 Februari 2013.

Menurut manusia bisa salah dan tentunya itu harus diperbaiki. Oleh karena itu, PKS akan menggelar agenda pertaubatan nasional. "Kegiatan ini untuk melanjutkan pembenahan ke dalam," imbuhnya.

Lebih lanjut, Hidayat mengatakan PKS bukanlah partai yang anti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun, ia mengajak semua pihak untuk memahami asas praduga tak bersalah. "Jadi kita tunggu pengadilan bekerja, PKS tidak anti KPK. Bahkan, ketika saya menjadi ketua fraksi, kami koreksi pimpinan lewat revisi UU KPK. Jadi posisi PKS tetap hormati KPK," ujarnya.

Koalisi

Dia menambahkan partainya belum membicarakan wacana akan keluar dari koalisi. Menurutnya, aneh jika PKS keluar dari koalisi hanya karena Luthfi Hasan Ishaaq, mantan Presiden PKS, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap impor daging sapi.

"Akan jadi aneh kami jika kami keluar dari Setgab setelah peristiwa kemarin. Jadi, kami akan cermati satu atau dua minggu ke depan," katanya.

Saat ditanya soal suara di akar rumput yang menginginkan agar PKS keluar dari koalisi pasca Luthfi Hasan menjadi tersangka, Hidayat mengatakan, aspirasi itu boleh-boleh saja. Namun, ia menegaskan, suara kader PKS yang menginginkan agar PKS terus berada di dalam koalisi jauh lebih besar.

"Itu hanya suara aspirasi yang emosional. Justru banyak suara kader yang ingin tetap koalisi," ujar mantan Presiden PKS ini. (eh)

Sumber: http://politik.news.viva.co.id/news/read/387261-badai--sapi--bukan-kiamat-bagi-pks

PKS Pilih Hukum daripada Hak Nyatakan Pendapat


Jakarta - Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai penggunaan Hak Menyatakan Pendapat (HMP) dalam kasus Bank Century belum diperlukan. Pasalnya saat ini kasus Century sudah masuk dalam proses penyidikan KPK, sehingga DPR hanya tinggal menunggu kinerja KPK.

"Secara prinsip kita menghormati keinginan HMP. Tapi kita lebih mendahulukan agar betul-betul. Sekarang bola ada di KPK yang menetapkan dua tersangka. Bahkan KPK sudah mengkoreksi pernyataan sebelumnya bahwa Boediono tidak bisa disentuh. Lebih bagus KPK diperkuat sehingga menuntaskan masalah ini," ujar Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid di Gedung DPR, Senayan, Jumat (23/11/2012).

Menurutnya, langkah KPK yang sudah menetapkan dua orang pejabat Bank Indonesia (BI) merupakan langkah tepat, karena kebijakan bailout sebesar Rp6,7 triliun merupakan kewenangan pejabat BI tingkat Deputi.

FPKS menilai saat ini tugas DPR mendorong terus KPK untuk segera menuntaskan kasus Century hingga ke akarnya. Sehingga pihak yang bertanggungjawab atas kebijakan tersebut bisa diproses.

"Bahwa KPK sudah menetapkan tersangka kalau KPK didorong dan didukung menuntas kan Century itu lebih cepat. Kalau kita menggunakan HMP prosesnya panjang. Ya kami lebih mendahulukan KPK melaksanakan kewenangannya mendukung KPK menindaklanjuti dua deputi itu dan membongkar ke akar-akarnya. Tapi jangan menutup HMP," ujarnya. [mvi]

Sumber: inilah.com, [Ajat M Fajar]

Hidayat Nur Wahid Sambangi Pasar Gembrong


JAKARTA - Calon gubernur DKI Jakarta dengan nomor urut 4, Hidayat Nur Wahid, pada hari kedua kampanye terbuka menyambangi Pasar Gembrong Lama, Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa. Dengan mengenakan batik khasnya yang berwarna oranye, mantan Ketua MPR beserta rombongan tim pemenangannya datang menyambangi Pasar Gembrong Lama.

Hidayat kemudian berkeliling pasar dengan naik motor roda tiga yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang-barang di pasar. Pada kesempatan itu, Hidayat juga sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengunjung pasar yang terlihat antusias menyambut kedatangannya.

Hidayat juga berjanji akan lebih sering mengunjungi pasar-pasar tradisional jika ia terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 11 Juli mendatang. Selain Pasar Gembrong, Hidayat juga sempat menyambangi pasar Johar Baru yang terletak di Jalan Percetakan Negara II, Jakarta Pusat.

Di pasar Johar Baru, Hidayat juga berbincang dengan sejumlah pedagang, pembeli, tukang becak, tukang sampah dan warga sekitar. Selain itu, Hidayat juga terlihat membagi-bagikan kaos putih-oranye yang menampilkan wajah Hidayat dan calon wakilnya Didik J Rachbini.

Iringan ondel-ondel yang menjadi simbol kota Jakarta juga menemani kunjungan Hidayat pada kesempatan tersebut. [Sumber: Didi Purwadi/republika.co.id]

Demi Stadion, The Jakmania Serius Dukung HNW-Didik


Jakarta - Sekitar dua ribu warga Jakarta Barat memadati GOR Lokasari Jalan Mangga Besar VII, Jakarta Barat. Mereka mendatangi GOR itu untuk berpartisipasi dalam kampanye awal pasangan Cagub DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini.

Ribuan warga yang berasal dari delapan Kecamatan yang ada di Jakarta Barat, yakni Taman sari, Tambora, Kebon Jeruk, Kembangan, Grogol-Petamburan, Palmerah, Cengkareng dan Kalideres.

Kehadiran ribuan massa yang memadati GOR Loka Sari pada Senin (25/6/2012) tersebut bukanlah tanpa alasan. Mereka datang dalam rangka memeriahkan kampanye terbuka calon Gubernur DKI Jakarta nomor 4 yakni Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini.

Warna orange yang menjadi ikon kampanye Hidayat-Didik pun menghiasi pemandangan di dalam maupun di luar GOR. Warna yang menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta tersebut semakin lengkap dengan kehadiran ratusan suporter setia tim sepak asal Ibu Kota, Persija, yakni Jakmania.

Seperti diketahui sebelumnya, Hidayat menjanjikan membangun stadion untuk tim kesayangan Jakmania, yakni Persija Jakarta. Mendengar janji itu, suporter loyalis itu pun juga tampak serius membantu pemenangan Hidayat-Didik dalam Pemilukada 2012 ini.

Kemeriahan kampanye terbuka pertama pasangan Cagub Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini, dilengkapi dengan aksi tim barongsai Tambora. Dua barongasai berwarna merah dan kuning itu menambah semaraknya kampanye dengan mempertunjukkan aksi heroik di depan 2.000 masa yang hadir.[bay]
[Sumber: Ahmad Farhan Faris/inilah.com]

Warga Dukung Ide WC Publik Ala HNW-Didik


Jakarta - Warga Jakarta menyambut baik program pasangan cagub dan cawagub nomor 4, Hidayat Nur Wahid- Didik J Rachbini tentang pembangunan WC publik gratis dan bersih.

Yani (32), salah satu pengunjung Pasar Senen, Jakarta Pusat mengatakan seharusnya pemerintah menyediakan fasilitas untuk publik yang tanpa biaya. "Iya saya setuju kalau ada program yang ingin menggratiskan toilet umum di setiap terminal dan pasar, masak di pom bensin saja bisa gratis," kata Yuni saat ditemui di Terminal Bus Senen, Jakarta, Selasa, (26/6/2012).

Hal senada dikemukakan Indah (20) saat ditemui secara terpisah bahwa dirinya mendukung kalau memang ingin diadakan program WC Umum gratis. "Setujulah siapa sih yang ga mau, asal terjamin kuantitas dan kualitasnya," tutur Indah.

Dijelaskan oleh Indah, hal yang terpenting yaitu perihal kebersihan. "Kalo saya sih ya, menggarisbesarkan soal bersihnya. Kalau memang kualitas kebersihan dan kenyamanannya dinomorsatukan, masyarakat juga enggak masalah dikenakan biayanya.. Apalagi di terminal sama pasar, itu kan jauh dari kata 'bersih' dan 'nyaman'," jelasnya kembali.

Menurutnya, lanjut Indah, sepanjang penglihatannya beberapa WC Umum baik di pasar maupun terminal itu kurang nyaman. "Sebab, terkadang ada yang satu WC itu dicampur untuk perempuan dan pria. Risih kan, udah gitu kurang dijaga kebersihannya juga. Ya namanya juga fasilitas umum," imbuh Indah. [mah]
[Sumber: Ahmad Farhan Faris/inilah.com]

Hidayat Janjikan Gaji Rutin Untuk Ketua RT dan RW


JAKARTA - Hidayat Nurwahid menjanjikan gaji rutin kepada Ketua RT dan RW di seluruh Jakarta. Menurut Calon Gubernur DKI itu, saat ini ada ketidakadilan yang dialami para ketua RT/RW.

"Gubernur gajinya bulanan, masa RT/RW tiga bulan sekali, itu sama sekali tidak adil," kata Hidayat di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (26/6/2012).

Hidayat mengungkapkan ketidakadilan itu harus dikoreksi sehingga Ketua RT/RW mendapat gaji setiap bulannya. Mantan Ketua MPR itu akan menaikkan pendapatan Ketua RT dari Rp 600 ribu menjadi Rp 1juta. Sedangkan Ketua RW dari Rp 800 ribu menjadi Rp 1.250.000.

"Gubernur gajinya bulanan RT/RW pun dana operasionalnya harus bulanan. Itu yang akan kami kerjakan dengan cara itu politik akan menghadirkan kesejahteraan kebaikan bagi warga Jakarta," tuturnya.

Hidayat yang berdampingan dengan Didik J Rachbini itu mengatakan dirinya akan menghadirkan Jakarta yang cerdas dengan transparansi anggaran. Pasalnya, saat ini, lanjut Hidayat, warga tidak mengetahui anggaran tersebut.

"Itu (anggaran) harus kita buka supaya warga mendapat keuntungan dari belanja daerah," tukasnya.
[Sumber: Ferdinand Waskita/Tribunnews.com]

Hidayat : Kejahatan Demokrasi Harus Dihentikan


Jakarta - Calon Gubernur DKI Jakarta Hidayat Nur Wahid mengatakan siapa pun yang melakukan intimidasi kepada calon tertentu dalam Pilkada DKI Jakarta sungguh telah menciderai demokrasi dan itu sebagai kejahatan yang tak boleh diacuhkan.

“Hal seperti itu tidak bisa dibiarkan, pokoknya kejahatan terhadap demokrasi ini harus dihentikan. Siapa pun pelakunya,” kata Hidayat melalui Pres Releasenya yang diterima INILAH.COM, Jakarta, Senin (4/6/2012).

Dikatakan oleh Hidayat, terkait diduganya oknum TNI yang terlibat dalam aksi intimidasi itu, dirinya menyayangkan di mana ia juga anggota Komisi Pertahanan dan Keamanan DPR.

"Kan TNI itu adalah alat negara bukan alat kelompok atau orang perorang yang bisa digunakan untuk kepentingan kelompok apalagi individu," terangnya.

Menurutnya, lanjut Hidayat, apa yang telah dilakukan oleh oknum TNI yang ikut-ikutan melakukan intimidasi hanya memperburuk citra Tentara Nasional Indonesia. Padahal, TNI sudah mereformasi diri menjadi institusi membela negara yang profesional.
“Jadi, tindakan oknum tersebut sangat jauh dari nilai-nilai profesional. Oleh karena itu, oknum seperti itu harus diberi tindakan yang tegas sebab sangat jelas hal itu mencoreng institusi TNI,” tegas Hidayat.

Konon era sudah berubah, saat ini bukan lagi zamannya memamerkan arogansi, mengadu fisik serta menakuti-nakuti masyarakat dengan aksi premanisme. “Ya apalagi sampai memamerkan senjata api, sudah jelas itu tindakan yang amat sangat patut disayangkan bisa terjadi di Indonesia, khususnya Jakarta,” imbuhnya kembali.

Maka dari itu, Hidayat mengajak semua kandidat dalam Pilkada DKI Jakarta untuk menciptakan suasana yang kondusif. Persaingan bukan berarti permusuhan di mana satu sama lainnya harus saling menjatuhkan, menyerang, bahkan melemparkan fitnah-fitnah keji ke masyarakat.

Pilkada Jakarta seharusnya bisa dijadikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat DKI Jakarta khususnya, dan Indonesia umumnya. "Bukan justru sebaliknya menjadi contoh buruk bagi praktek demokrasi di Indonesia. Maka dari itu semua pihak yang terlibat dalam Pilkada DKI Jakarta harus secara bersama-sama menjaga suasana agar tetap kondusif," tutur Hidayat.

Sebelumnya telah terjadi aksi intimidasi terhadap relawan Hidayat Didik, yang tengah memasang banner dan spanduk di wilayah RW 07, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Sabtu (2/6) malam lalu.[dit]
[Sumber: inilah.com].

Relawan Hidayat-Didiek Diancam Senpi Saat Akan Pasang Poster


Jakarta Relawan dari pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Hidayat Nur Wahid-Didiek Rachbini, mengalami intimidasi saat menyebarkan poster jagoan mereka di daerah Rawa Badak, Jakarta Utara, Sabtu (2/6). Namun hal tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

"Salah paham biasa saja, sudah clear sekarang. Tidak ada laporan ke kepolisian karena sudah diselesaikan kekeluargaan saja," kata anggota DPRD DKI Jakarta dari PKS, Tubagus Arif, pada detikcom, Minggu (3/6/2012).

Tubagus merupakan pemilik rumah yang menjadi posko pendukung Hidayat-Didiek di daerah tersebut. Rumah Tubagus tidak luput dari aksi premanisme yang melarang pemasangan poster dan banner Hidayat-Didiek.

Tubagus menambahkan kejadian yang dikarenakan salah paham tersebut menghasilkan kesepakatan soal pemasangan atribut calon gubernur dalam pilkada DKI. Kesepakatan tersebut terkait dengan daerah yang diperkenankan dan tidak diperkenankan dalam memasang atribut pilkada.

"kesepakatan saja, cuman daerah situ saja. Ini biasa saja," jelasnya.

Kejadian intimidasi tersebut terjadi Sabtu malam di daerah Rawa Badak, berikut kejadiannya berdasarkan rilis yang diterima detikcom dari tim Hidayat-Didiek, Minggu (3/6):

Relawan Hidayat-Didiek yang tengah memasang spanduk dan banner di daerah RW 07, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara, Sabtu (2/5) malam di datangi oleh sejumlah oknum berambut cepak yang diduga menjadi beking seorang pengusaha besi tua di kawasan itu. Mereka meminta sejumlah relawan yang tengah memasang spanduk dan banner pasangan Hidayat-Didiek untuk menurunkan semua spanduk dan banner yang sudah dipasang.

Alasan mereka, tidak ada izin dari RT/RW setempat. Namun, ketika dijawab bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan adanya izin dari RT/RW, sejumlah pria berambut cepak tersebut marah dan mengancam akan mematahkan kaki para relawan. Nyatanya, banner dan spanduk kandidat lain tidak pernah diusik, pemasangannya tidak ada izin dari RT/RW setempat.

Selanjutnya, relawan Hidayat-Didiek kembali ke posko, tapi ternyata sekelompok orang suruhan pengusaha besi bekas tersebut tidak puas. Mereka mendatangi posko relawan, yang juga rumah anggota DPRD DKI Jakarta dari PKS, Tubagus Arif. Atas perintah pengusaha besi tua yang ikut menyerbu posko relawan tersebut, mereka melepasi banner yang terpasang di tiang depan rumah Tubagus.

Sang pengusaha mendatangi para relawan yang berkumpul di dalam rumah Tubagus Arif. Ia menantang dan mencengkram baju salah seorang relawan hingga bajunya sobek, juga mengangkat tangan hendak memukul salah seorang relawan. Namun, situasi dapat dikendalikan sehingga tidak sempat terjadi keributan. Tak berapa lama pengusaha dan para pembekingnya pun meninggalkan posko. Di perjalanan mereka mencopoti banner Hidayat-Didiek.

Namun sang pengusaha yang dipanggil 'Si Bos' ini ternyata belum puas. Ia menyuruh seorang oknum TNI yang menjadi bekingnya untuk memanggil salah seorang relawan, Nurdiansyah. Dengan harapan persoalan bisa segera tuntas, Nurdiansyah dan sejumlah relawan mendatangi rumah 'Si Bos'. Dalam pertemuan, 'Si Bos' memaksa agar relawan Hidayat-Didiek meminta maaf kepadanya, dan mengatakan, “Untung tidak saya siram pake ini,” seraya menunjukkan senjata api. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh pengurus RW, yang sejak kejadian lebih banyak diam ketimbang menengahi keributan.

Sedangkan, ketua tim advokasi Hidayat-Didiek, Zainuddin Paru, menyatakan arogansi dan aksi premanisme seperti itu tidak bisa dibenarkan dan hanya akan mencederai demokrasi. Ia mengharapkan Pilkada berlangsung dengan aman, tertib, jujur, dan adil. Paru menilai aksi yang dilakukan oleh pengusaha di Rawa Badak dan oknum TNI itu berlawanan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
(vid/mpr)
[Sumber: detik.com].

Top